Di Bontosunggu, Tulang Belulang Berserakan Karena Abrasi

Saya membaca guratan pada nisan berbentuk kotak “Andi Cakko Binti Robison Daeng Kojang lahir di Bone tahun 1847 wafat di Tamasongo tahun 1937” yang masih terlihat baru, sepertinya telah dipugar. Jaraknya hanya 20 meter dari tepi pantai. Ada ratusan bahkan ribuan kuburan dalam area makam Kampung yang berdekatan dengan pemukiman warga ini.

Tanggal 04 Pebruari 2010, saya sedang berada di dalam komplek pekuburan warga Kampung Bontosunggu, Kecamatan Galesong Utara, Takalar ditemani Daeng Amang, lelaki tua berumur 60an tahun ini adalah penjaga kuburan sekaligus perawat mesjid setempat, dia berbaik hati mengantar saya mengamati satu persatu bentuk kuburan dan situasi di sekitarnya.

Di dalam kompleks, ilalang tumbuh rapat, satu pohon kenanga (atau poko’ rita dalam Bhs Makassar) menjulang tinggi seperti pohon raksasa purba tepat di tengah. Kuburan seluas hampir satu hektar ini terlihat padat. Di sebelah selatan ada kompleks pembibitan udang yang memanjang dari timur ke barat ke bibir pantai memunggungi kuburan. Di utara adalah mesjid Nurul Yaqin. Di barat, area kuburan berbatasan dengan tepi pantai.

Saya diarahkan Daeng Amang menuju bagian barat kuburan tersebut. Hadir pula Daeng Tompo, warga setempat. “Sisi kuburan ini dahulu, atau sekitar lima tahun lalu masih utuh sampai 10 meter ke luar” Kata Daeng Tompo membandingkan sisi pembibitan yang rubuh dan jarak dari kuburan. Kuburan di depan saya, terlihat jelas telah longsor. Tinggi dasar pantai ke permukaan kuburan sekitar satu meter setengah. Kuburan ini seperti pemukiman warga lainnya sedang dilongsorkan air laut.

Daeng Amang, yang jangkung ini berjongkok dan memunguti tulang belulang manusia yang berserakan di tepi kuburan. Tulang manusia bercampur dengan pasir dan benda-benda laut. Akar-akar semak terlihat bagi urat dari sisi itu dan beberapa kuburan telah hilang separuh. Daeng Amang menunjukkan tulang lengan yang sudah patah lalu mengambil retakan batok kepala. Anak-anak berkerumun di sekitar kami, di belakang air laut yang mulai meninggi semakin mendekati tepi pantai atau tepatnya kuburan itu.

“Lama sekalimi ini” Katanya. Kuburan mulai tergerus sejak beberapa tahun silam namun sejauh ini warga belum melakukan upaya pencegahan. “Jika ada mayat yang hendak dikebumikan, mereka akan memilih bagian timur kuburan dekat jalan” Kata Daeng Amang.

Bukan hanya kuburan, pemukiman warga juga telah terkikis, fasilitas pembibitan banyak yang telah rusak karena terjangan air laut. “Kami telah berupaya memasang berkarung-karung pasir namun tidak bertahan lama” Kata Daeng Nakku, mantan kepala kampung.

Ternyata bukan hanya Bontosunggu, tiga kampung lainnya dalam desa Bontosunggu juga mengalami situasi yang sama, abrasi yang hebat. Desa di utara Kabupaten Takalar ini memang sedang merana tetapi warga belum mampu menanggulangi bahaya yang mengancam mereka. Padahal, Desa ini pada tahun 70an adalah desa favorit karena merupakan salah desa terbaik di Takalar yang pernah sukses dalam lomba desa tingkat nasional.

“Pada tahun-tahun itu pula desa ini pernah terkenal sebagai salah satu desa sukses membangun model perkoperasian nelayan. Bahkan masih ada bekas kantornya yang berdiri di tengah kampung” Kata Salmawaty, warga setempat. Tapi seiring perjalanan waktu, desa ini semakin digerogoti permasalahan lingkungan, area pantai semakin berkurang. Masalah abrasi telah membuat mereka bak kehilangan semangat untuk melakukan sesuatu.

“Masalahnya, biaya yang dibutuhkan sangat besar. Katanya ada milyaran seperti di Desa Galesong Kota yang telah dibanguni tanggul” Kata Daeng Nakku mengambil contoh desa lain yang telah dibantu pemerintah. Kepala Kampung Bontosunggu, Saharuddin Daeng Jarung membenarkan bahwa masalah mendesak di kampungnya kini adalah masalah abrasi. “Kami belum menemukan cara yang bisa menanggulangi abrasi ini” Katanya saat saya temui tanggal 4 Maret 2010.

Di tempat terpisah Daeng Sibali yang rumahnya berhadapan dengan kuburan tersebut mengatakan bahwa sejauh ini belum ada perhatian, setidaknya untuk membicarakan solusi bagi abrasi pantai tersebut. Dia yang berprofesi sebagai teknisi pembibitan udang ini mengakui selain mengancam pemukiman warga, kini ada sekitar 12 pembibitan (hatchery) yang juga terancam karena abrasi ini.

Menurut Daeng Sibali, mestinya warga berpikir bahwa suatu ketika, jika tidak melakukan sesuatu atas terjangan air laut itu maka suatu ketika kuburan sekaligus wujud kampung ini akan hilang.

Banyak Faktor

Beberapa warga yang ditemui menduga adanya eksploitasi berlebihan dan pelaksanaan reklamasi pantai di Makassar sebagi pemicu terjadinya abrasi di Galesong ini. Dari Daeng Sibali saya peroleh informasi bahwa dahulu sekitar awal tahun 90an di sekitar muara sungai desa pernah marak aktifitas penambangan pasir hitam. “Konon, warga menggali pasir besi dan menjualnya dengan harga Rp. 5.000 perkarung” Kata lelaki kelahiran Selayar ini.

Saat itu penambang menjual pasirnya ke penampung yang datang dari Makassar. Ada yang menduga karena penambangan itulah gerusan air laut menjadi semakin hebat.

Di tempat terpisah, Daeng Tompo mengaku sejak beberapa tahun terakhir arah dan pola arus yang mengarah ke daerah Galesong semakin kuat. Kuat dugaan perubahan pola arus ini karena semakin tingginya sedimentasi di sekitar muara sungai Barombong atau Sungai Jeneberang.

“Apalagi sejak semakin intensifnya pembangunan tanggul dan perluasan Kota Makassar yang melakukan reklamasi pantai, tentu akan berdampak pada wilayah sekitarnya seperti Galesong ini” Kata Aisyah Lamboge salah seorang reporter radio di Makassar yang menaruh perhatian pada issu abrasi di sekitar Kota Makassar.

Ya, atas nama pembangunan di wilayah tetangga ternyata memberi dampak buruk pada wilayah di sekitarnya. Kampung lama kehilangan bentuk dan kota baru idaman semakin kokoh bersolek di atas derita tetangganya. “Entah siapa yang mau hibahkan tanahnya demi kuburan kami semua di Bontosunggu, kelak” Kata Daeng Sibali lirih.

Sungguminasa, 06022010

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Desa-Desa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s