Menyoal Predikat Miskin

“Sotta!” Kata anak saya ke teman mainnya saat kerja kelompok. Dia mengatai temannya sok tahu saat si teman menyebut sesuatu yang tidak jelas dalilnya. Lalu, lelaki usil pada perempuan, suka menggoda, dalam bahasa Makassar disebut lale, maleda’ dalam bahasa Luwu. Anak baru gede atau remaja yang kerap menulis dengan gaya nyeleneh di Jakarat semisal “ny3l3n3h, l4l3, m4l3d@k” disebut Alay.

Predikat dilekatkan pada si tersangka. Orang luar memberi label, bungkus, paket kepada siapa saja yang pantas diganjar. Entah darimana mulainya, kebiasaan memberi predikat itu semakin menjadi-jadi dan nyaris luput dari perdebatan. Bahkan orang orang terdidik, akademisi, ahli lebih asik memilih angka-angka standar, kriteria dan padanan yang pas untuk mengukuhkan bahwa miskin memang predikat yang menarik, pantas dan mesti diwaspadai.

Saya membandingkan predikat pada nelayan pesisir, petani pegunungan, buruh paberik dan pekerja informal lainnya yang dari waktu ke waktu selalu lekat dengan kata “miskin”. Predikat ini semakin laku kala kata istilah pembangunan, modernisasi atau globalisasi menjadi agenda pada setiap unit unit kerja bisnis(corporate), pemerintah (government) bahkan lembaga swadaya masyarakat (non-government ). Orang-orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, kumuh, kurang modal, tradisional, ndeso, kampungan, yang nasibnya tidak sesuai standar yang disepakati oleh si pemberi label kemudian dicap “miskin”.

Kata inilah yang kemudian menjadi pemicu motif persekutuan pemerintah, universitas bahkan LSM mengambil tindakan yang mereka sebut sebagai pendekatan dan formula pembangunan. Mereka tidak pernah mau pusing memikirkan esensi predikat, pelabelan, dan siapa sesungguhnya yang mereka bicarakan.

Padahal orang miskin itu, sejatinya punya sumberdaya alam sedari awal. Mereka juga punya nilai-nilai kekeluargaan, kegotongroyongan, organisasi bawaaan dari turun temurun. Semua bermula dari zaman prasejarah hingga berubah di zaman sejarah. Saat datangnya para imperialis dan pemilik capital (borjuis). Sebelum raja-raja Nusantara takluk pada penjajah itu, mereka adalah satu komunitas yang melanggengkan hidupnya dari alam, gotong royong dan mengayam nilai-nilai sosial mereka.

Sumberdaya alam, ikan, padi, jagung, buah-buahan, ditanam, dipanen untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Jika surplus mereka menyimpannya di lumbung. Orang orang Makassar tempo dulu menyimpan padinya di “pammakkang”, atau lumbung. Ini bertahan dari waktu ke waktu hingga datangnya pada pengelana, para pedagang yang mencari rempah-rempah dari Benua Biru, Eropa.

Pemenuhan kebutuhan makanan sehari-hari (subsistence) telah bergeser ke ranah pasar. Mereka memproduksi hasil pertanian, kebun, rempah-rempah, untuk dipasarkan ke Eropa. Produk pertanian telah diburu untuk diperjualbelikan. Karena harga hasil bumi sangat menggiurkan. Padahal disebut mahal, karena diperbandingkan. Dua barang (dan dua situasi) dibandingkan nilainya dengan melabelinya angka-angka dan mata uang. Kondisi inilah yang saat ini menjadi pemicu terjadinya ketimpangan, antara yang surplus dan defisit. Antara yang berproduksi dan yang tak punya lahan dan seterusnya. Ironisnya, alat alat kekuasaan negara (imperialis) dan represif ikut bermain

Kembali ke predikat miskin. Disebut miskin karena diperbandingkan. Rilis Bank Dunia menyebut standar pendapatan US$ 2/hari (dikutip dari seorang sahabat) adalah limit untuk masuk ke wilayah gelap kemiskinan. Jika warga tidak memperoleh itu dalam sebulan berarti dia layak disebut miskin. Angka-angka ini menjadi gula perencanaan pembangunan dari tahun ke tahun.

“Orang orang lebih senang memberi simplifikasi kualitas hidup masyarakat perdesaan, mereka malas datang melihat fakta dan menjalin perkawanan dengan warga,” Kata seorang sahabat. “Mereka enggan datang karena merasa mereka lebih pintar,” Kata seorang sahabat lainnya.

Padahal, “kemiskinan”, jikapun kita analisis kejadiannya bisa jadi disebabkan oleh dua kondisi. 1. Saat sumberdaya atau akses warga untuk memanfaatkannya, ditutup atau dirampas oleh imperialis, alat negara dan unit-unit kekuasaan. 2. Saat dimana seorang bayi dilahirkan tanpa orang tua syah dan dikucilkan, yatim piatu, cacat dan nihil modal produksi dari keturunannya. Orang orang yang lahir tidak punya apa-apa.

Saat ini, contoh tentang alasan nomor satu “kemiskinan” itu sangat jamak sekali. Dan orang orang tidak mau peduli. Bukannya peduli, mereka buru-buru membuat pernyataan normatif: kita harus turun ke desa dan bina mereka !

Sungguminasa, 02052010

Advertisements

About reefberry

orang biasa
This entry was posted in Refleksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s